Sejarah Vihara Buddha Sakyamuni

Namo Buddhaya,

Vihara Buddha Sakyamuni muncul dari perjuangan Umat Buddha di Denpasar untuk menghormati Ajaran Guru Agung Buddha Gotama. Tokoh Buddhis tersebut adalah: Bapak Merta Ada, Bapak Sudiarta Indrajaya, Bapak Astika beserta tim, bertemu dengan Keluarga Bpk Putu Adiguna / Ibu Erlina Kang Adiguna untuk menyampaikan niat baik tersebut. Niat ini disambut baik dan menjadi awal kisah Vihara Buddha Sakyamuni dengan semboyan Samangganam Tapo Sukho.

Tanggal 16 Desember 1992

Berdiri Cetiya Buddha Sakyamuni di ruko pinjaman Keluarga Bapak Putu Adiguna/ Ibu Erlina Kang Adiguna di Pertokoan Jln. Diponegoro Denpasar, digunakan juga untuk sekretariat DPD Gemabudhi, DPD Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia) Propinsi Bali. Berkat dana Buddha Rupang dari Sathani Ketua Pemuda Buddhis Theravada Thailand maka Cetiya diperluas dan dinamai dengan Mahacetiya Buddha Sakyamuni, sebagai Ketua Dayaka Sabha untuk pertama kali adalah Bapak Merta Ada.

Tanggal, 22 Januari 1995

Forum Ibu-ibu Buddhis (FIB) diresmikan pendiriannya di Mahacetiya Buddha Sakyamuni, sejak itu FIB bermitta Dhamma dengan Mahacetiya Buddha Sakyamuni Denpasar. Muncul ide untuk membangun vihara, namun terkendala dalam lahan. Ibu Erlina Kang Adiguna berunding dengan keluarga dan akhirnya sepakat berdana lahan. Niat baik ini disampaikan kepada Alm. Y.M. Girirakkhito Mahathera dan Beliau berkenan menerima saat Dhammashanti Waisak (50 Tahun Indonesia Emas).

Tanggal 29 Mei 1995

Keluarga Bapak Putu Adiguna /Ibu Erlina Kang Adiguna berdana lahan 36.5 are terletak di Jalan Gunung Agung Lk. Padang Udayana 3A diterima oleh Y.M. Bhante Girirakkhito Mahathera disaksikan oleh Bapak I.B. Oka (Gubernur Bali) dan Bapak Ketut Pasek (Dirjen Bimas Hindu dan Buddha).

Tanggal 30 April 1996

Hadir Bhikkhu Dhammasuto dan Bhikkhu Thitaketuko aktivitas Dhamma semakin meningkat. Keluarga Bapak Putu Adiguna/Ibu Erlina Kang Adiguna meminjamkan Gedung di sebelah lahan yang didanakan. Mahacetiya Buddha Sakyamuni pindah ke gedung tersebut dengan Upacara Abhiseka Buddha Rupam kemudian bernama Vihara Buddha Sakyamuni, dengan Dayaka Sabha Bapak Herman S. Wijaya (1996-2006). Dari Vihara Buddha Sakyamuni, dilaksanakan Abhiseka Buddha Rupam menuju vihara yang baru dibangun di seluruh Bali.

Tanggal 11 April 1998

Muncul gagasan Ibu Erlina Kang Adiguna menggelar acara Sebulan dalam Dhamma (Ceramah Dhamma dan Latihan Atthasila), kemudian acara ini digelar setiap menyambut Peringatan Tri Suci Waisak, kini acara ini dikenal dengan Sebulan Pendalaman Dhamma.

Tanggal 9 November 1999

Didirikan Yayasan Buddha Sakyamuni dengan Para Pendiri Bhikkhu Thitaketuko Thera, Bapak The Putu Adiguna, Bapak Kang Dharma Wijaya, Bapak Merta Ada, Bapak Sudiarta Indrajaya, S.E., Bapak Herman Sudanto Wijaya, S.E., Bapak Drs. Sutikno Gunawan dan Bapak The Bun Hoo, dengan Ketua Umum Yayasan Buddha Sakyamuni pertama kalinya adalah Ibu Erlina Kang Adiguna.

Tanggal 16 Desember 1999

Karena tidak ada kepastian sepeninggal dari YM. Girirakkhito Mahathera maka Ibu Erlina Kang Adiguna berunding denganY.M. Titha Ketuko Thera dan Y.M. Dhammasuto Thera kemudian mendeklarasikan bahwa Vihara Buddha Sakyamuni menganut Mazhab Buddhis Theravada Dhammayuth saat HUT Vihara Buddha Sakyamuni.

Tanggal 8 Juli 2000

Penggalian Dana untuk Pembangunan Vihara Buddha Sakyamuni dengan menghadirkan YM. Uttamo Thera di Keraton Bali Cottage didukung sebagai donatur : Bapak Putu Adiguna, Bapak Dharma Wijaya, Bapak Tjokrodinata, Bapak Surya Permana dan yang lainnya mensukseskan acara Penggalian Dana tersebut.

Tanggal 9 Juli 2000

Pembangunan Vihara Buddha Sakyamuni dimulai ditandai dengan Upacara Peletakan Batu Pertama dihadiri oleh Para Bhikkhu dari Sangha Theravada Indonesia dengan Ketua Panitia Pembangunan Bapak Nyoman Ariawan.

Tanggal 17 Juni 2005

Peresmian Dhammasala Vihara Buddha Sakyamuni oleh Gubernur Bali Drs. Dewa Made Brata dan pemberkahan oleh Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia YM. Dhammasubho Mahathera.

Tanggal 13 Maret 2006

Upacara Serah Terima Buddha Rupam ”Buddha Sakyamuni” buah Karya Ajahn Appai Narkkong adalah dana dari Umat Buddha Thailand dengan donatur utama Mr. Suraphong Chatri. Penyerahan dilakukan oleh Kepala Angkatan Bersenjata Thailand dan diterima oleh Ketua Umum Yayasan Buddha Sakyamuni Ibu Erlina Kang Adiguna didampingi Ketua Dayaka Sabha PMd. Sudiarta Indrajaya beserta umat Buddha Bali, bertempat di Wat Bovornives Bangkok.

Tanggal 14 April 2006

Upacara Abhiseka Buddha Rupam dari Vihara Buddha Guna menuju Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar. Sejak saat itu ditetapkan bahwa Ulang Tahun Vihara Buddha Sakyamuni didasarkan atas Penanggalan Buddhis yaitu jatuh setiap Purnama di Bulan Citta.

Tanggal 13 Mei 2006

Peringatan Tri Suci Waisak 2550/2006 Vihara Buddha Sakyamuni sebagai momen yang tak terlupakan dengan menempati Dhammasala yang baru. Pembinaan diteruskan oleh YM. Sucirano Thera, didukung pengabdian Dayaka Sabha dan Yayasan Buddha Sakyamuni. Vihara Buddha Sakyamuni memantapkan dirinya menjadi Pusat Informasi Agama Buddha Theravada di Bali.

Tanggal 9 April 2009

Mengawali menyambut Waisaka Puja pertama kali digelar Perayaan Besar (Mahajata) untuk mempertahankan Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD) sebagai pertanda hari ulang tahun Vihara Buddha Sakyamuni diawali pembersihan Buddha Rupang dan dilanjutkan dengan Sebulan Pendalaman Dhamma sebagai Tradisi Merayakan Tri Suci Waisak.

PERKEMBANGAN TAHAP II

Mengukuhkan Vihara Buddha Sakyamuni sebagai Pusat Informasi Buddhis Theravada di Bali.

Tanggal 14 Februari 2012

Terpilih Bapak Oscar N. W sebagai ketua Dayaka Sabha Vihara Buddha Sakyamuni, mengadakan pembenahan manajemen dengan merekrerut generasi muda, memberikan kesempatan Organisasi Buddhis Theravada semakin berkiprah di vihara dan mengutamakan pelayanan umat dengan menyediakan fasilitas yang memadai.

Tanggal 25 November 2013

Ketua Umum Yayasan Buddha Sakyamuni Ibu Erlina Kang Adiguna melepaskan jabatannya, terpilih PMd. The Bun Hoo sebagai Ketua dan Ibu Erlina Kang sebagai Pembina, lalu bekerja sama dengan dayaka sabha mengadakan pembenahan secara menyeluruh.

Tanggal 30 April 2015

Ibu Erlina Kang Adiguna menggagas pendirian Sekber Organisasi Buddhis Theravada Bali dan memberikan fasilitas gedung yang lengkap “Kantor Dhamma” untuk persaudaraan Organisasi Dhamma menyatukan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Bali .

PERKEMBANGAN TAHAP III

Kebangkitan Umat Buddha Theravada Bali dalam Maha Karya Gotong Royong Memasuki Tahun 2018 Vihara Buddha Sakyamuni bergegas mengestafetkan kepemimpinan dan fokus pada pelayanan umat serta harmonisasi Organisasi Buddhis.

Mengingat dibutuhkan Organisasi Buddhis yang berkualitas Magabudhi, FIB dan PATRIA Bali di bawah pembinaan Ibu Erlina Kang Adiguna sebagai Pembina melakukan pembenahan secara total :
- Meningkatkan Harkat Martabat Pandita Mengangkat Harkat dan Martabat Magabudhi
- Membentuk Wanita Berkarakter Buddhis untuk sebagai Guru Utama dalam keluarga
- Membentuk generasi muda yang kokoh dalam saddha, bermoral, sukses dan mandiri.

Tanggal 8 Agustus 2019

KBTI Bali mencetuskan TEAM âLOKA UMAT THERAVADA BALI bertujuan selalu satu dalam berbuat baik untuk menanggapi bencana alam seperti bencana gempa bumi di Bali & Lombok.

Tanggal 1 September 2018

Ibu Erina Kang Adiguna menggagas Tim Sinergi Buddhis Theravada Bali sebagai Tim Solid dan Profesional untuk mensinergikan potensi Umat Buddha Theravada Bali sebagai kekuatan yang bersinergi dalam tujuan mencapai karya nyata yang berlandaskan kemuliaan Dhamma.

Tanggal 24 Oktober 2018

KBTI Bali beserta Umat Buddha Theravada Bali menggelar Maha Karya Gotong Royong memperingati 20 Masa Vassa YM. Sucirano Mahathera, bertujuan untuk peduli fasilitas “Rumah Dhamma” dan pengembangan sesuai dengan Dhamma dapat tertangani sepenuhnya dengan perpanjangan tangan Tim Sinergi Buddhis Theravada Bali.

Perjalanan kisah yang membahagiakan kehadiran Vihara Buddha Sakyamuni yang memiliki potensi besar untuk mempersatukan Umat Buddha Theravada Bali sebagai kekuatan kebersamaan untuk mengangungkan Dhamma.

Karya Besar dalam Pengembangan Buddha Dhamma di Vihara Buddha Sakyamuni dapat dirasakan oleh seluruh Umat Buddha di Bali.

Meningkatkan Saddha dengan memuliakan keagungan Dhamma nan Mulia sebagai landasan mencari kebebasan samsar, bahagia saat ini dan bahagia saat akan datang.